Desa Bungur merupakan salah satu desa tertua yang terletak dialiran bantaran Sungai Sodor Kecamatan Rangsang Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti. Letak desa Bungur pada awal dibuka merupakan area hutan alam yang dibuka untuk dijadikan perekebunan karet dan kelapa. Namun, perkampungan awalnya berada di Sungai Bemban. Ditetapkanya Sungai Bemban sebagai perkampungan dengan alasan kehidupan masayarakat pada waktu itu menjadikan sungai, selat dan hutan bakau sebagai sumber penghidupan. Sungai, selat dan hutan bakau dianggap sebagai paru-paru kehidupan yang saling terkait. Sungainya kaya akan berbagai jenis ikan, dan ribuan hutan bakaunya tidak hanya menjadi sumber kehidupan bagi berbagai jenis binatang, berbagai jenis kayu bakau yang tumbuh alami di rawa sungai memiliki khasiat sebagai obat-obatan berbagai jenis penyakit. alasan inilah, yang menjadi pertimbangan kenapa Batin Kerimbang selaku tokoh pendiri desa Bungur menjadikan sungai dan hutan bakau sebagai kawasan yang tidak boleh dirusak.
Namun Bungur diambil dari nama sebuah pohon kayu yang tumbuh di hulu sungai Bemban, ada sebuah pohon tidak hanya rimbun dan tinggi. Pohon tersebut memiliki keunikan tidak hanya buahnya bisa dimakan hewan yang hidup di rawa sungai, tapi juga bisa dimakan manusia. Keunikan lainnya, bunganya tidak pernah putus sepanjang tahun. Masyarakat menyambut nama pohon tersebut Bunguran, yang artinya pohon yang tak pernah berhenti berbunga. Keunikan pohon tersebutlah yang kemudian dijadikan nama desa Bungur. Perkampungan Sungai Bemban yang semula dijadikan tempat pemukiman, tidak bertahan lama. Sulitnya mendapatkan air minum pada saat musim kemarau, menyebabkan Batin Kerimbang mengajak pengikutnya pindah kearah daratan membuka lahan baru untuk dijadikan sebagai perkampungan. Selain sulitnya mendapatkan air minum pada saat
Musim kemarau, kondisi tanahnya yang licin dan masam menyebabkan tidak cocok untuk bercocok tanam. Hal inilah yang kemudian menyebabkan Batin Kerimbang bersama pengikutnya berpindah-pindah tempat tinggal dan akhirnya menemukan lokasi yang lebih baik untuk dibuka menjadi perkampungan. Dan lokasi ini yang kemudian berkembang menjadi desa Bungur sekarang. Sedangkan Sungai Bemban yang menjadi perkampungan awal yang dibuka Batin Kerimbang, hingga sekarang masih ada. Dan sebagai buktinya, masih banyak ditemukan tegakan aneka macam buah-buahan yang hingga hari ini masih tepelihara oleh masyarakat.
Sungai Sodor yang menjadi pintu masuk ke Desa Bungur, memiliki keunikan tersendiri. Keunikan lain yaitu adanya sebuah pulau yang terletak ditengah-tengah sungai Sodor. Yang lebih menarik lagi, pulau yang dialiri puluhan anak sungai (sake) ini tidak pernah tenggelam meskipun pasang besar. Pulau yang dipenuhi berbagai jenis kayu mangrove ini, memiliki lagenda yang dipercaya secara turun temurun oleh warga desa Bungur. Pulau yang luasnya 783 hektar ini, dihuni oleh berbagai jenis satwa burung, ular, monyet, lutung, kalong, dan berbagai jenis reptile lainnya. Selain kaya akan berbagai jenis biotik kuala sungai, berbagai jenis spesies biotik khas rawa mangrove seperti snepak, ketam, buah tanah, kedendang, siput, kongkom dan beberapa jenis kerang-kerangan juga banyak ditemukan di antara akar-akar bakau pulau Setahun.
Cerita legenda Pulau Setahun yang hingga kini masih dipercayai masyarakat Desa Bungur, erat kaitanya dengan sejarah Batin Kerimbang Si Lubur. Meskipun tidak ada silsilah yang jelas asal keturunan Batin Kerimbang Si Lubur, UU Hamidy (1981) Dalam bukunya _Suku-suku terasing di Riau_ menjelaskan, Suku Hutan merupakan pecahan dari Puak Melayu Rakyat Kerajaan Gasib. Raja Gasib yang pertama di Islamkan Sultan Malaka adalah Megat Pudu dan setelah memeluk islam bergelar Sultan Ibrahim. Sejak itu Kerajaan Gasib menjadi pusat penyiaran Islam di Sumatera bagian Timur. Kerajaan Gasib kemudian mundur karena diserang Kerajaan Aceh dan digantikan Kerajaan Siak Sri Indrapura 1723. Masuknya Belanda membuat rakyat dan keturunan Raja Gasib tidak senang belanda memberlakukan pajak atau _blassing,_ yang sangat memberatkan rakyat. Dari sinilah Puak Utan keluar dari Gasib meratau berlayar sampai ke Bengkalis dan Pulau Rangsang karena terus ditekan Belanda.
Meskipun tidak ada nukilan sejarah yang jelas, Si Lubur atau Batin Kerimbang pertama dipercaya berasal dari Suku Hutan pecahan Melayu Gasib yang telah memeluk Islam. Karena dianggap memiliki kesaktian, kepandaian dan kebal, Si Lubur dipercaya untuk menjadi Pemimpin. UU Hamidy (1981) dalam bukunya _orang-orang terasing di Riau_ mengatakan pemimpin Suku Hutan dipimpin oleh seseorang yang memiliki kepandaian dan kesaktian yang bergelar Batin. Si Lubur menguasai perairan Sungai Sodor dan menetap di Kerimbang atau Jabi (desa sokop sekarang), karena itulah dikenal dengan gelar Batin Kerimbang. Karena dari awal tidak senang dengan Belanda, waktu Belanda masuk dan menguasai Bandar Selatpanjang. Si Lubur yang bergelar Batin Kerimbang memimpin pengikutnya melakukan perlawanan. Karena kalah jumlah dan persenjataan, Batin Kerimbang kembali harus keluar dan pindah dari Sokop, menyusuri Sungai Sodor hingga kehulu Sungai Bemban.
Dari hulu sungai Bemban, Batin Kerimbang dan pengikutnya tetap terus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Untuk mempersempit perlawanan Batin Kerimbang, Belanda menyerang perkampungan Batin Kerimbang. Tidak puas, Belanda meneruskan mengejar Batin Kerimbang dan pengikutnya hingga ke kuala Parit sampai ke Tanjung Kedabu. Setelah Batin Kerimbang meninggal, anak sulungnya yang bernama Nurmat di nobatkan sebagai pemimpin dan melanjutkan gelar sebagai Batin Kerimbang.
Kepemimpinan Nurmat sebagai Batin Kerimbang, dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Syarif Nurmat yang memimpin pada awal masuknya zaman Penjajahan Jepang. Sama dengan datuknya, Syarif Normat juga menolak tunduk dengan penjajahan jepang. Karena terus terdesak oleh Jepang. Syarif Nurmat yang juga bergelar Batin Kerimbang, memindahkan pusat kepemimpinannya dari sungai Bemban menyisir ke hulu Sungai Bungur naik kearah darat sebelah timur membuat perkampungan baru. Selain melawan Jepang, kondisi hulu sungai Bemban yang sulit mendapatkan air saat musim kemarau, turut menjadi alasan Batin Kerimbang Syarif Nurmat membawa pengikutnya pindah mencari lokasi baru untuk perkampungan. Dari sungai Bemban Batin Kerimbang Syarif Nurmat bergerak kesebelah Timur dan naik kedarat. Di lokasi inilah Batin Kerimbang menemukan tanah merah airnya tawar dan bisa diminum. Dilokasi inilah kemudian Batin Kerimbang Syarif Normat membuka perkampungan baru dan diberi nama Bungur. Urutan Kepemimpinan desa Bungur dari tahun 1771 – 2018.
1. Batin Kerimbang Lubur dari tahun 1771
2. Batin Kerimbang Nurmat dari tahun 1871 – 1807.
3. Penghulu Syarif Nurmat dari tahun 1901 – 1935.
4. Penghulu Mil Majid dari tahun 1935 – 1963.
5. Penghulu/Kepala Desa Haroen Djamil dari tahuan 1963 – 1992.
6. Kepala Desa Ahmad Pamad dari tahun 1992 – 2005 (Dua priode menjabat kepala desa)
7. Kepala Desa Abdul Wahid dari tahun 2005 – 2007.
8. Pjs. Kepala Desa Harun Al Rasyid dari tahun 2007 – 2014.
9. Kepala Desa Harun Al Rasyid dari tahun 2008 – 2014.
10. Pj Kepala Desa Rozali tahun 2015 (menjabat selama 6 bulan mengisi kekosongan sementara penyelenggaraan Pilkades).
11. Kepala Desa Muhamad Ali dari tahun 2015 – 2021 .
12. Kepala Desa Abdul Wahid dari Tahun 2021 – 2027.
Sejarah panjang desa Bungur tidak hanya diwarnai dengan perlawanan Batin Kerimbang bersama anak-anaknya kepada penjajah Belanda dan Jepang. Berbagai peristiwa sempat menjadi catatan sejarah masyarakat Bungur. Pada saat membuka hulu sungai Bemban, Batin Kerimbang meskipun sudah memeluk islam, namun masih menjaga keprcayaan animismenya. Pada saat membuka perkampungan hulu Sungai Bemban, Batin Kerimbang pertama (Si Labur) sempat berselisih dengan penguasa Pulau Setahun Putri Kerajaan Bunian. Karena sama-sama sakti, akhirnya keduanya sepakat membuat perjanjian untuk tidak saling mengusik. Pengikut Batin Kerimbang tidak boleh merusak hutan bakau Setahun, membunuh atau menumpahkan darah hewan penghuni Pulau Setahun yang dipenuhi hutan mangrove. Perjanjian kesepakatan ini menjadi pesan Batin Kerimbang pada para pengikutnya yang berisikan 9 larangan Batin Kerimbang untuk Pulau Setahun. Bila 9 larangan ini dilanggar dengan sengaja, akan terjadi musibah longsor ataupun banjir besar.
Salah satu kejadian yang sempat membuat gempar hingga menyita perhatian banyak pihak, pada tahun 2005 desa Bungur sempat dilanda tanah longsor akibat kondisi tanah yang labil (gambut) dan tidak adanya pohon bakau yang berfungsi sebagai penahan. Akibat kejadian tersebut 4 buah rumah warga hancur, namun tidak sampai menyebabkan terjadinya korban jiwa. Peristiwa inilah yang dikaitkan warga dengan 9 larangan Batin Kerimbang, tidak boleh menebang atau merusak hutan bakau tanpa izin. Bila 9 larangan ini dilakukan, akan menimbulkan bencana bagi masyarakat desa Bungur.
Terwujudnya Desa Bungur yang mandiri dan sejahtera.